Juli 8, 2009 oleh Dr. Kris
Penelitian mengenai mekanisme alergi telah difokuskan untuk memahami kelainan imunorespon, namun beberapa perkembakan terakhir ini baru disadari bahwa peran epitel sebagai sistem pertahanan pertama terhadap alergan mulai disadari. Meskipun demikian, sampai sejauh ini belum diketahui mengapa dan bagaimana alergan ditranspor melalui epitel. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dua kelompok tim peneliti dari Finlandia melaporkan bahwa salah satu sebab berkembangnya alergi kemungkinan disebabkan oleh adanya malfungsi (gangguan fungsi) epitel saluran pernafasan yang memungkinkan alergan erikat, masuk dan kemudian menjelajah epitel.
Kelompok peneliti dari Helsinki University dan Helsinki University Central Hospital dalam kerjasamanya dengan kelopok peneliti Findlandia, melakuakan studi untuk mengklarifikasi apa ygn terjadi pada epitel, segera setelah terpapar dengan alergen dan sebelum timbulnya reaksi alergi.
Tim peneliti ini menggunakan paparan alergen polen (serbuk tepung sari( birch (Bet v1) dan menunjukkan bahwa alergen ini terikat, masuk dan menjelajah melalui epitel konjungtiva dan nasal pasien dalan kurun waktu 1 menit setelah paparan, tetapi hal ini tidak terjadi pada subyek yang sehat. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Alergi Imunologi | Bertanda alergi, epitel saluran nafas, penelitian alergi | Leave a Comment »
Juni 20, 2009 oleh Dr. Kris
Studi yang dilakukan oleh National Cancer Institute AS menunjukkan bahwa suplemen jahe yang diberikan selama 3
hari berturut-turut sebelum kemoterapi dalam kombinasi dengan antiemetik konvensional, secara bermakna mengurangi mual akibat kemoterapi pada pasien kanker.
Dr Julie Ryan dkk, dari University of Rochester Medical Center New York menyatakan bahwa meskipun antiemetik telah digunakan secara luas tetapi mual akibat kemoterapi tetap > 70% pada pasien-pasien kanker yang mendapat kemoterapi. Disatu sisi, sudah sejak bertahun-tahun jahe telah digunakan untung merngurangi gejala gastrointestinal seperti mual.
Dalam studi ini diteliti sebanyak 644 pasien kanker yang menderita mual setelah pemberian siklus kemoterapi dan dijadwalkn untuk mendapat minimal 3 siklus kemoterapi tambahan. Jenis kanker yang paling sering adalah kanker payudara, kanker saluran cerna dan kenker paru-paru.
Pasien secara random mendapat plasebo dan kapsul jahe (0,5 gr; 1 gr; 1,5 rg) selama 6 hari, dimulai 3 hari sebelum hari pertama kemoterapi. Semua pasien mendapat terapi antiemetik standar pada hari pertama kemoterapi.
Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan tingkat rasa mual pada keempat kelompok tersebut pada hari pertama kemoterapi. Dari hasil penelitian, sebagian besar pasien melaporkan rasa mual paling berat pada hari pertama kemoterapi. Seluruh dosis jahe secara bermakna mengurangi gejala mual dibanding plasebo (p=0,003). Pengurangan gejala mual terbanyak terjadi dengan dosis jahe 0,5 gr dan 1,0 gr aitu penurunan mual sebesar 40%.
Para peneliti menyimpulkan bahwa studi ini menunjukkan bahwa suplementasi jahe efektif terhadap gejala mual akibat kemoterapi dan pengurangan rasa mual dapat memperbaiki kualitas hidup sebagian besar pasien selama kemoterapi.
Dikutip dari: American Society of Clinical Oncology Annual Meeting 2009 Orlando, Florida AS dan Majalah Medical Update
Ditulis dalam Kanker THT | Bertanda jahe, kemoterapi, mual, mual akibat kemoterapi | Leave a Comment »
Juni 19, 2009 oleh Dr. Kris
Suatu studi meta-analisis menunjukan bahwa jika pengobatan medikamentosa tidak efektif pada kasus rinosinusitis kronik maka operasi bedah sinus endoskopik secara bermakna dapat mengurangi semua gejala mayor rinosinusitis kronik seperti obstruksi nasal/hidung, nyeri fasial (wajah) dengan atau tanpa nyeri kepala, postnasal drip (lendir yang terasa mengalir ke tenggorokan), dan hiposmia (gangguan penciuman).
Dalam studi ini dilakukan penelitian meta-analisis pada 21 studi relevan yang melibatkan total 2070 pasien dengan rinosinusitis kronik, yang dipantau selama rata-rata 13,9 bulan setelah operasi.
Dr. Alexander C Chester dkk, dari Georgetown University Medical Center, Washington, D.C., menyatakan bahwa studi ini merupakan meta-analisis pertama yang memfokuskan pada hilangnya gejala setelah dilakukan bedah sinus endoskopik, sehingga menghasilkan bukti yang kuat untuk timbulnya perbaikan secara umum.
Sebelumnya, tidak jelas gejala mana yang paling banyak mengalami perbaikan dan ada kekhawatiran mengenai tidak adanya perbaikan pada gangguan penciuman.
Studi Meta-analisis ini menunjukkan bahwa gejala membaik secara bermakna stelah dilakukan bedah sinus endoskopik. Nilai ES (effect size) rerata secara keseluruhan adalah 1,19 dan efek ini dianggap kua karena ES>0,8 dianggap besar. ES lebih menonjol untuk obstruksi nasal (1,73), diikuti oleh nyeri fasial (1,13), postnasal drip (1,19) sakit kepala (0,98) dan hiposmia (0,97). Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan, obstruksi nasal, nyeri fasial, sakit kepala, penciuman dan postnasal drip
Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan pembedahan, obstruksi nasal, nyeri fasial/ sakit kepala, gangguan penciuman dan postnasal drip membaik sebanyak 59%, 61%, 49% dan 47% pasca pembedahan.
Karena pembedahan endoskopik modern bersifat invasif minimal, maka penggunaan endoskop dan pengangkatan sedikit jaringan pada area yangsangat spesifik sangat bermanfaat dalam membuka sinus serta menghasilkan aliran udara yang lebih baik.
Dikutip dari Otolaryngology, Head and Neck Surgery 2009;140:633-639 dan majalah Medical Update Juni 2009.
Ditulis dalam Hidung | Bertanda BSEF, FESS, gejala sinusitis, hidung buntu, pengobatan sinusitis, rinosinusitis, sinusitis | Leave a Comment »
Mei 7, 2009 oleh Dr. Kris
Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan yang berasal dari epitel atau mukosa dan kripta yang melapisi permukaan nasofaring.7,16 Di Indonesia maupun di Asia Tenggara, KNF dilaporkan sebagai tumor paling sering ditemukan diantara keganasan di daerah kepala dan leher.16,17 Di Indonesia, menempati urutan ke-4 diantara keganasan yang terdapat di seluruh tubuh. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya (1973 – 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127 kasus KNF dari tahun 2000 – 2002.18
Berdasarkan klasifikasi histopatologi, KNF dibagi menjadi WHO1, WHO2 dan WHO3. WHO1 adalah karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, WHO2 gambaran histologinya karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih kearah diferensiasi baik. WHO3 adalah karsinoma yang sangat heterogen, sel ganas membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas7,19. Jenis KNF yang banyak dijumpai adalah WHO2 dan WHO3. Di bagian THT Semarang mendapatkan 112 WHO2 dan WHO3 dari 127 kasus KNF.18
KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang dijumpai penderita di bawah usia 20 tahun dan
usia terbanyak antara 45 – 54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2 – 3 : 1.16,18,20
Sampai sekarang etiologi KNF belumlah jelas benar, akan tetapi virus Epstein-Barr (EBV) dinyatakan sebagai etiologi utama penyebab KNF7,16 dan faktor lain seperti genetik serta lingkungan yang mengandung bahan karsinogenik dinyatakan sebagai faktor pendukung. EBV hampir dapat dipastikan sebagai penyebab KNF, namun kenyataannya tidak semua individu yang terinfeksi EBV akan berkembang menjadi KNF. Menurut hasil penelitian menyatakan faktor pendukung seperti lingkungan, genetik sangat menentukan timbulnya KNF.7,21 Lanjut Baca »
Ditulis dalam Kanker THT | Bertanda kanker nasofaring, Kanker THT, KNF, nasofaring, NPC | Leave a Comment »