PENDAHULUAN
Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut “the process of taking food into the body through the mouth”.
Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan.
Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.
NEUROFISIOLOGI MENELAN
Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal dan fase esophageal.
FASE ORAL
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara di sadari.
Peranan saraf kranial pada pembentukan bolus fase oral.
|
ORGAN |
AFFEREN (sensorik) |
EFFEREN (motorik) |
|
Mandibula
Bibir
Mulut & pipi
Lidah |
n. V.2 (maksilaris)
n. V.2 (maksilaris)
n.V.2 (maksilaris)
n.V.3 (lingualis) |
N.V : m. Temporalis, m. maseter, m. pterigoid
n. VII : m.orbikularis oris, m. zigomatikum, m.levator labius oris, m.depresor labius oris, m. levator anguli oris, m. depressor anguli oris
n.VII: m. mentalis, m. risorius, m.businator
n.XII : m. hioglosus, m. mioglosus
|
Pada fase oral ini perpindahan bolus dari ronggal mulut ke faring segera terjadi, setelah otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan bolus diatas lidah. Otot intrinsik lidah berkontraksi menyebabkan lidah terangkat mulai dari bagian anterior ke posterior. Bagian anterior lidah menekan palatum durum sehingga bolus terdorong ke faring.
Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding posterior faring sehingga menimbulkan refleks faring. Arkus faring terangkat ke atas akibat kontraksi m. palato faringeus (n. IX, n.X dan n.XII)
Peranan saraf kranial fase oral
|
ORGAN |
AFFEREN (sensorik) |
EFFEREN (motorik) |
|
Bibir
Mulut & pipi
Lidah
Uvula |
n. V.2 (mandibularis), n.V.3 (lingualis)
n. V.2 (mandibularis)
n.V.3 (lingualis)
n.V.2 (mandibularis) |
n. VII : m.orbikularis oris, m.levator labius oris, m. depressor labius, m.mentalis
n.VII: m.zigomatikus,levator anguli oris, m.depressor anguli oris, m.risorius. m.businator
n.IX,X,XI : m.palatoglosus
n.IX,X,XI : m.uvulae,m.palatofaring
|
Jadi pada fase oral ini secara garis besar bekerja saraf karanial n.V2 dan nV.3 sebagai serabut afferen (sensorik) dan n.V, nVII, n.IX, n.X, n.XI, n.XII sebagai serabut efferen (motorik).
FASE FARINGEAL
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal ini terjadi :
- m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X dan n.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat, kemudian uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring.
- m.genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX) m.krikoaritenoid lateralis (n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi pita suara sehingga laring tertutup.
- Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena kontraksi m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan n.servikal I).
- Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m. Konstriktor faring inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring inferior (n.X, n.XI) menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring (n.X)
- Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat.
Peranan saraf kranial pada fase faringeal
|
Organ |
Afferen |
Efferen |
|
Lidah
Palatum
Hyoid
Nasofaring
Faring
Laring
Esofagus
|
n.V.3
n.V.2, n.V.3
n.Laringeus superior cab internus (n.X)
n.X
n.X
n.rekuren (n.X)
n.X |
n.V :m.milohyoid, m.digastrikus n.VII : m.stilohyoid n.XII,nC1 :m.geniohyoid, m.tirohyoid n.XII :m.stiloglosus
n.IX, n.X, n.XI :m.levator veli palatini n.V :m.tensor veli palatini
n.V : m.milohyoid, m. Digastrikus n.VII : m. Stilohioid n.XII, n.C.1 :m.geniohioid, m.tirohioid
n.IX, n.X, n.XI : n.salfingofaringeus
n.IX, n.X, n.XI : m. Palatofaring, m.konstriktor faring sup, m.konstriktor ffaring med. n.X,n.XI : m.konstriktor faring inf.
n.IX :m.stilofaring
n.X : m.krikofaring
|
Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.V.2, n.V.3 dan n.X sebagai serabut afferen dan n.V, n.VII, n.IX, n.X, n.XI dan n.XII sebagai serabut efferen.
Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal, meningkatkan waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang waktu pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Bertambahnya volume bolus menyebabkan lebih cepatnya waktu pergerakan pangkal lidah, pergerakan palatum mole dan pergerakan laring serta pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai dengan umur.
Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Mc.Connel dalam penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu :
- Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang ditimbulkan tenaga lidah 2/3 depan yang mendorong bolus ke orofaring yang disertai tenaga kontraksi dari m.konstriktor faring.
- Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan negatif akibat terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding posterior faring, sehingga bolus terisap ke arah sfingter esofagus bagian atas. Sfingter esofagus bagian atas dibentuk oleh m.konstriktor faring inferior, m.krikofaring dan serabut otot longitudinal esofagus bagian superior.
FASE ESOFAGEAL
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.
Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :
1. dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.
2. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal esofagus.
Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal transit time bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otot-otot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik primer.
PERANAN SISTEM SARAF DALAM PROSES MENELAN
Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :
- Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring langsung akan berespons dan menyampaikan perintah.
- Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak (kedua sisi) pada trunkus solitarius di bag. Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi motorik proses menelan) dan nukleus ambigius yg berfungsi mengatur distribusi impuls motorik ke motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
- Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah
GANGGUAN DEGLUTASI/MENELAN
Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia atau sulit menelan, yang merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik oleh pasien dewasa, lansia ataupun anak-anak.
Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak kurang lebih 2000 kali, sehingga masalah disfagia merupakan masalah yang sangat menggangu kualitas hidup seseorang.
Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.
Kegagalan dapat terjedi pada kelainan neuromuskular, sumbatan mekanik sepanjang saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta gangguan emosi .
Disfagia dapat disertai dengan rasa nyeri yang disebut odinofagia.
Berdasarkan difinisi menurut para pakar (Mettew, Scott Brown dan Boeis) disfagia dibagi berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga mulut, orofaring, esofagus atau berdasarkan mekanismenya yaitu dapat menelan tetapi enggan, memang dapat menelan atau tidak dapat menelan sama sekali, atau baru dapat menelan jika minum segelas air, atau kelainannya hanya dilihat dari gangguan di esofagusnya.
EVALUASI KLINIK DISFAGIA.
Perlu diingat bahwa masalah disfagia dapat timbul karna :
Berdasarkan proses mekanisme deglutasinya dapat dibagi :
- Sumbatan mekanik/Disfagia mekanik baik intraluminal atau ekstraluminal (penekanan dari luar lumen esofagus)
- kelainan Neurologi/Disfagia neurogenik/disfagia motorik mulai dari kelainan korteks serebri, pusat menelan di batang otak sampai neurosensori-muskular.
- Kelainan emosi berat/ Disfagia psikogenik.
Berdasar proses mekanisme deglutasi diatas dibagi lagi menjadi :
1. Transfer dysphagia kalau kelainannya akibat kelainan neuromotor di fase oral dan faringeal.
2. Transit dysphagia bila disfagia disebabkan gangguan peristaltik baik primer/sekunder dan kurangnya relaksasi sfingter esofagus bagian bawah.
3. Obstructive dysphagia bila disebabkan penyempitan atau stenosis di faring dan esofagus
Berdasarkan letak organ anatomi dapat dibagi menjadi :
- Disfagia gangguan fase oral
- Disfagia gangguan fase faringeal
- Disfagia gangguan fase esofageal
Berdasarkan penyebab/etiologi dapat dibagi menjadi :
1. Kelainan kongenital (K)
2. Inflamasi/radang (R)
3. trauma (T)
4. Benda asing (B)
5. Neoplasma (N)
6. Psikis (P)
7. kelainan endokrin (E)
8. kelainan kardio vaskuler (KV)
9. kelainan neurologi/saraf (S)
10.Penyakit degeneratif (D)
11.Iatrogenik seperti akibat operasi, kemoterapi dan radiasi (I)
ANAMNESIS PENTING.
- Batasan keluhan disfagia (rongga mulut, orofaring, esofagus)
- Lama dan progresifitas keluhan disfagia
- Saat timbulnya keluhan disfagia dalam proses menelan (makan padat, cair, stress psikis dan fisik)
- keluhan penyerta : odinofagi, BB turun cepat, demam, sesak nafas, batuk, perasaan mengganjal/menyumbat di tenggorokan.
- Penyakit penyerta : eksplorasi neurologik degeneratif, autoimun, kardiovaskuler dll)
- Penggunaan obat-obat yg mengganggu proses menelan (anastesi, muskulorelaksan pusat)
- Evaluasi pola hidup, usia, hygiene mulut, pola makanan
- Riwayat operasi kepala dan leher sebelumnya
PEMERIKSAAN FISIK PENTING
- Keadaan umum pasien
- Pemeriksaan rongga mulut, evaluasi gerakan dan kekuatan otot mulut dan otot lidah.
- Pemeriksaan orofaring, pergerakan palatum mole, sensibilitas orofaring dgn sentuhan spatel lidah, cari refleks muntah, refleks menelan, dan evaluasi suara (keterlibatan laring)
- Pemeriksaan faring-laring : gerakan pangkal lidah, gerakan arkus faring, uvula, epiglotis, pita suara, plika ventrikularis dan sinus piriformis.
- Pemeriksaan neurologi fungsi motorik dan sensorik saraf kranial
- Periksa posisi dan kelenturan leher/tulang servikal, evaluasi massa leher, pembesaran KGB leher dan trauma
PEMERIKSAAN PENUNJANG PENTING
Pemeriksaan spesifik utk menilai adanya kelainan anatomi atau sumbatan mekanik :
|
Penunjang |
Kegunaan |
|
Menilai anatomi dan fs otot faring/esofagus, deteksi sumbatan o/k tumor, striktur,web, akalasia, divertikulum Kelainan anatomi di kepala, leher dan dada Deteksi tumor, kalainan vaskuler/stroke, degeneratif proses diotak Menilai keadaan dan pergerakan otot laring Menilai lumen esofagus, biopsi Menilai lesi submukosa |
Pemeriksaan penunjang utk menilai fungsi menelan :
|
Penunjang |
Kegunaan |
|
1. Modified barium swallow 2. Leksible fiber optic faringoskop 3. Video floroscopy recording 4. Scintigraphy
5. EMG 6. Manometri 7. pHmetri 24 jam |
Menilai keadaan kedua sfingter esofagus, menganalisa transfer dysphagia Menilai pergerakan faring dan laring
Sda
Menilai gangguan orofaring, esofagus, pengosongan lambung dan GERD (Gastroesophageal refluks disease) Menilai defisiensi fungsi saraf kranial Menilai gangguan motilitas peristaltik Pemeriksaan fefluks esofagitis |
|
No |
Penyakit |
Disfagia |
Etiologi |
||||||||
|
mekanik |
Neurogenik |
Psikogenik |
|||||||||
|
|
|
O |
F |
E |
O |
F |
E |
O |
F |
E |
|
|
1 |
Atresia |
|
|
v/s |
|
|
|
|
|
|
K |
|
2 |
Fistula trakeoesofagus |
|
|
v/s |
|
|
|
|
|
|
K |
|
3 |
Stenosis/web |
|
|
v/s |
|
|
|
|
|
|
K |
|
4 |
Divertikulum zenker |
|
v |
|
|
|
|
|
|
|
K |
|
5 |
Korpal |
v |
v |
v |
|
|
|
|
|
|
B |
|
6 |
Disfagia lusoria |
|
|
v/t |
|
|
|
|
|
|
K |
|
7 |
Akalasia |
|
|
|
|
|
v/a |
|
|
|
u/k |
|
8 |
Spasme difus esophagus |
|
|
|
|
|
v/s |
|
|
|
P |
|
9 |
Striktur |
|
|
v |
|
|
|
|
|
|
T/R |
|
10 |
Esofagitis |
|
|
v |
|
|
|
|
|
|
R |
|
11 |
Karsinoma/tumor |
v |
v |
v |
v |
v |
v |
|
|
|
N |
|
12 |
Globus histerikus |
|
|
|
|
|
|
|
|
v/s |
P |
|
13 |
Serebral palsy |
|
|
|
v |
v |
|
|
|
|
S |
|
14 |
GERD |
|
|
|
|
|
|
|
v |
|
P |
Daftar Pustaka :
1. Soepardi A Efianty. Penatalaksanaan disfagia secara komprehensif. Acara ilmiah penglepasan purna tugas Prof Dr. Bambang.2002
2. SS Bambang. Disfagia.Bronko-esofagologi.1994:40-49
3. Bailey J Byron. Esophageal disorders.Head and neck surgery-Otolaringology.Vol.1.2.1998;56:781-801
4. Alper MC, Myers EN, Eibling DE. Dysphagia. Decision making in ENT Disorders.2001;52:136-37
5. Thaller SR, Granick MS, Myers EN. Disfagia. Diagram diagnostik penyekit THT.EGC 1993;13:105-11
terima kasih informasinya dr Kris, sangat membantu saya nih…kalau ada kesulitan nanti saya konsulkan ke dokter ya…hee.hhhee…ee
salam kenal dok
Sastro
sama sama dr Sastroadi, terima kasih banyak atas tanggapannya
dr. kris, apakah pada fase faringeal merupakan proses yang disadari?
thx.
yusuf
mahasiswa
Hallo mas yusuf, terima kasih atas tanggapannya dan salam kenal. Proses menelan yang terjadi di fase oral dan faringeal merupakan fase menelan yang disadari. Sederhananya sih seperti gini, tentunya pada saat ada sesuatu masuk kedalam mulut, kita dapat bertindak mau di kunyah, didiamkan, atau dimuntahkan, lain cerita bila sudah masuk di esofagus, benda itu sejatinya akan turun ke dalam gaster atau tersangkut di esofagus. Terima kasih dan sukses selalu
Dok, mau bertny. Mekanisme nyeri tenggorok atau nyeri telan pada proses radang seperti faringitis atau tonsilitis atau tonsilofaringitis itu seperti apa? terima kasih banyak atas jawabannya.
dok…
klo pemgkajian masalah ini gmn ya dok?
klo nak kecil, dewasa n lansia penyebabnya sama g ya?
Selamat siang Dr. Kris,
Saya Rini 36 th, sejak pertengahan April lalu saya menderita sakit kepala kemudian saya minum paramex dan sakit kepala berkurang tetapi 3 hari kemudian saya menderita kesulitan menelan karena merasa banyak lender yang lengket di tenggorokan (tidak nyeri) mengakibatkan kesulitan bernafas, dan saya juga merasa ada benda yang menyangkut di tenggorokan sangat mengganggu sekali dok. Kemudian saya berobat ke dr THT, dr mengatakan ada pembengkakan pada dinding tenggorokan juga pada tulang hidung. Dr memberikan saya obat Polysilane & Ranitidine (untuk lambung) dan
Vectrine, Rhinos SR & Iliadin (untuk masalah THT.
Obat sudah saya minum tapi benda yang menyangkut ditenggorokan masih ada, begitu juga dengan lendirnya dan terkadang sulit menelan masih ada akhirnya saya pergi ke dr. PD karena saya ada gejala maag & lambung apa mungkin sy terkena lambung dan saya diberi obat : Hexilon, lancid, Stileran Caplet, KalXetih, Zypras, obat sudah saya minum tetapi yang menyangkut ditenggorokan belum hilang.
Akhirnya saya mengunjungi dr THT lainnya, sama seperti dr THT semula ada pembengkakan di dinding tenggorokan dan hidung, dr memberikan : Dogmatil, Abbotic XL,Malgestan & Zaldiar. Saya merasa ada kesembuhan tetapi tidak 100%.
Yang ingin saya tanyakan dok :
1. Kenapa masih saja ada yang menyangkut di tenggorokan dari 100% masih tersisa
20% ?
2. Apabila saya bernyanyi saya merasa ditenggorokan saya merasa seperti kebas/pegal sehingga mengganggu saat menelan, apakah ada kemungkinan Pita suara saya rusak dok ?
3. Apakah yang saya harus lakukan agar saya sembuh kembali seprti sediakala dan saya juga ingin terus bernyanyi dok ?
4. Dan apakah dr bisa mendiagnosa penyakit apa yang saya derita dok ?.
Mohon sarannya Dok, oh iya apakah saya bisa mendapatkan alamat dr praktek Kris ?.
Atas kebaikan Dr. Kris menjawab pertanyaan saya, saya ucapkan terimakasih.
Salam – Rini