Penelitian mengenai mekanisme alergi telah difokuskan untuk memahami kelainan imunorespon, namun beberapa perkembakan terakhir ini baru disadari bahwa peran epitel sebagai sistem pertahanan pertama terhadap alergan mulai disadari. Meskipun demikian, sampai sejauh ini belum diketahui mengapa dan bagaimana alergan ditranspor melalui epitel. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dua kelompok tim peneliti dari Finlandia melaporkan bahwa salah satu sebab berkembangnya alergi kemungkinan disebabkan oleh adanya malfungsi (gangguan fungsi) epitel saluran pernafasan yang memungkinkan alergan erikat, masuk dan kemudian menjelajah epitel.
Kelompok peneliti dari Helsinki University dan Helsinki University Central Hospital dalam kerjasamanya dengan kelopok peneliti Findlandia, melakuakan studi untuk mengklarifikasi apa ygn terjadi pada epitel, segera setelah terpapar dengan alergen dan sebelum timbulnya reaksi alergi.
Tim peneliti ini menggunakan paparan alergen polen (serbuk tepung sari( birch (Bet v1) dan menunjukkan bahwa alergen ini terikat, masuk dan menjelajah melalui epitel konjungtiva dan nasal pasien dalan kurun waktu 1 menit setelah paparan, tetapi hal ini tidak terjadi pada subyek yang sehat.
Dalam studi ini makin jelas terlihat bahwa selama musim semi, pada pasien-pasien yang alergik, alergen polen tadi mengubah ekspresi ratusan gen pada epitel nasal, dibanding sampel yang diambil pada musim dingin. Beberapa gen-gen ini berhubungan dengan protein transpor dan regulasi sitoskeleton. Penemuan yang mengagumkan adalah bahwa respon imun pada kelompok kontrol sehat terhadap paparan alergen polen adalah bersifat kuat dan ratusan gen berubah ekspresinya selama musim dingin dan semi. Meskipun demikian, sebagian besar gen tersebut berhubungan dengan fungsi respon imun.
Profesor Risto Renkonen yang memimpin studi ini menyatakan bahwa mereka belum mampu menjelaskan mekanisme bagaimana alergen polen birch bet v1 menjelajah melalui epitel pada pasien-pasien alergi, tetapi tidak pada subjek-subjek yang sehat.
Mekanisme transpor semacam ini juga digunakan oleh berbagai bakeri dan virus saat merke menyerang epitel dan menginfeksi pasien.
Dalam studi ini digunakan pendekatan biologik sistematik dan data diperoleh secara bersamaan melalui berbagai metode berbeda dan dimasukkan dalam data masif tersimpan yang memungkinkan dilakukannya analisis peran berbagai protein dan jaringannya dalam patogenesis reaksi alergi.
Analisis reduksionistik, misalnya yang difokuskan hanya terhadap satu atau sedikit molekul secara bertahap, digantikan oleh pendekatan secara sistematik. Kemampuan untuk menemukan mekanisme baru yang relevan secara etiologik, merupakan motivasi utama untuk melakukan eksplorasi tanpa bias.
Kerugian percobaan secara top-down adalah bahwa metodi ini memerlukan biaya yang sangat mahal, namum menghasilkan lebih banyak data mentah dibandingkan dengan pendekatan berdasar hipotesis yang dapat menghasilkan data yang sangat banyak.
Dikutip dari : Allergy 2009; DOI:10.1111/j.1398-9995.2008.01919 & Journal of Allergy and Clinical Immunology 2009; doi:10.1016/j.jaci.2008.11.048 dan Majalah Medical Update Juni 2009.