Suatu studi meta-analisis menunjukan bahwa jika pengobatan medikamentosa tidak efektif pada kasus rinosinusitis kronik maka operasi bedah sinus endoskopik secara bermakna dapat mengurangi semua gejala mayor rinosinusitis kronik seperti obstruksi nasal/hidung, nyeri fasial (wajah) dengan atau tanpa nyeri kepala, postnasal drip (lendir yang terasa mengalir ke tenggorokan), dan hiposmia (gangguan penciuman).
Dalam studi ini dilakukan penelitian meta-analisis [...]
Arsip untuk ‘Hidung’ Kategori
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF) Menghilangkan Gejala Rinosinusitis
Diposkan dalam Hidung, Label BSEF, FESS, gejala sinusitis, hidung buntu, pengobatan sinusitis, rinosinusitis, sinusitis pada Juni 19, 2009 | Leave a Comment »
SINUSITIS
Diposkan dalam Hidung, Label alergi, gejala sinusitis, komplikasi sinusitis, patofisiologi, rinosinusitis, sinus paranasal, sinusitis pada November 30, 2008 | 4 Komentar »
PENDAHULUAN
Seperti diketahui, meskipun data-data yang akurat belum ada di Indonesia tetapi sinusitis merupakan masalah kesehatan yang banyak dijumpai pada praktek sehari-hari. Di USA kurang lebih 32 juta orang setiap tahun menderita sinusitis dan hampir sebesar USD150 juta (1989) dipakai untuk pengobatan sinusitis.
Menurut American Academy of Otolaryngology – Head & Neck Surgery 1996 istilah [...]
FIBROSIS KISTIK
Diposkan dalam Hidung, Label fibrosis, fibrosis kistik, Hidung, hidung buntu, nasal polip, polip, polip hidung pada Oktober 18, 2008 | 3 Komentar »
I. PENDAHULUAN
Obstruksi hidung menetap/kronik baik satu atau kedua sisi dapat disebabkan oleh berbagai macam etiologi yang mendasarinya antara lain adanya massa tumor di dalam rongga hidung. Massa tumor dapat bersifat jinak maupun ganas. Salah satu massa tumor jinak yang sering di temui di bidang THT-KL adalah adanya polip nasi di rongga hidung yang ditandai [...]
GANGGUAN PENCIUMAN/PENGHINDU
Diposkan dalam Hidung, Label gangguan penciuman, kelainan fungsi penciuman, organ penciuman manusia pada September 25, 2008 | 7 Komentar »
PENDAHULUAN
Indera penghidu/pembau yang merupakan fungsi saraf olfaktorius (N.I), sangat erat hubungannya dengan indera pengecap yang dilakukan oleh saraf trigeminus (N.V), karena seringkali kedua sensoris ini bekerja bersama-sama. Reseptor organ penghidu terdapat di regio olfaktorius dihidung bagian sepetiga atas. Serabut saraf olfaktorius berjalan melalui lubang-lubang pada lamina kribrosa os etmoid menuju bulbus olfaktorius didasar fosa kranii anterior (1).
Hilangnya [...]