Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2008

Laringitis adalah suatu radang laring yang disebabkan terutama oleh virus dan dapat pula disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan onset dan perjalanannya, laringitis dibedakan menjadi laringitis akut dan kronis(1,2). Laringitis akut merupakan radang laring yang berlangsung kurang dari 3 minggu dan pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1, 2, 3), rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah Haemofilus influenzae, Branhamella catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae(4).

 

Laringitis akut lebih banyak dijumpai pada anak-anak (usia kurang dari 3,5 tahun), namun tidak jarang dijumpai pada anak yang lebih besar, bahkan pada orang dewasa atau orang tua(3,4).

Diagnosis laringitis akut dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemerinksaan penunjang. Pada anamnesis biasanya didapatkan gejala demam, malaise, batuk, nyeri telan, ngorok saat tidur, yang dapat berlangsung selama 3 minggu, dan dapat keadaan berat didapatkan sesak nafas, dan anak dapat biru-biru. Pada pemeriksaan fisik, anak tampak sakit berat, demam, terdapat stridor inspirasi, sianosis, sesak nafas yang ditandai dengan nafas cuping hidung dan/atau retraksi dinding dada, frekuensi nafas dapat meningkat, dan adanya takikardi yang tidak sesuai dengan peningkatan sushu badan merupakan tanda hipoksia(3, 8, 9). (lebih…)

Read Full Post »

Menurut penelitian yang dilakukan dr. Juan C Celedon dari FK Universitas Harvard, anak-anak dari orangtua dengan alergi atau asma yang dilahirkan melalui operasi caesar cenderung menderita rhinitis alergi (radang hidung akibat alergi yang ditandai dengan bersin-bersin, ingus encer, hidung gatal dan tersumbat) dan dermatitis atopik (radang kulit) tetapi bukan asma. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal alergi dan imunologi klinik ini melibatkan 432 anak yang dipanatu perkembangannya sejak lahir hingga usia 9 tahun. Pengujian alergi kulit dilakukan pada 271 anak dengan usia rata-rata 7,4 tahun. Hasil penelitian ini mengungkapkan anak-anak yang lahir melalui operasi casear dimana satu atau kedua orang tuanya mempunyai riwayat penyakit alergi akan mengalami 2,1 kali kemungkinan atopik dibanding teman sebaya meraka yang lahir normal. Adapun resiko rhinitis alergi 1,8 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang lahir normal. (dikutip dari Reuters)

Read Full Post »

PENDAHULUAN
Indera penghidu/pembau yang merupakan fungsi saraf olfaktorius (N.I), sangat erat hubungannya dengan indera pengecap yang dilakukan oleh saraf trigeminus (N.V), karena seringkali kedua sensoris ini bekerja bersama-sama. Reseptor organ penghidu terdapat di regio olfaktorius dihidung bagian sepetiga atas. Serabut saraf olfaktorius berjalan melalui lubang-lubang pada lamina kribrosa os etmoid menuju bulbus olfaktorius didasar fosa kranii anterior (1).
Hilangnya fungsi pembauan dan/atau pengecapan dapat mengancam jiwa penderita karena penderita tak mampu mendeteksi asap saat kebakaran atau tidak dapat mengenali makanan yang telah basi. Karena sekitar 80% gangguan pengecapan merupakan kelainan pembauan yang sejati maka artikel ini terutama difokuskan pada fungsi pembauan dan penurunannya. (2)
Hasil survei tahun 1994 menunjukkan bahwa 2,7 juta penduduk dewasa Amerika menderita gangguan pembauan, sementara 1,1 juta dinyatakan menderita gangguan pengecapan. Penelitian yang dilakukan sebelumnya menemukan bahwa 66% penduduk merasakan bahwa mereka pernah mengalami penurunan ketajaman pembauan. (2,3)

Terminologi. (2)
Gangguan pembauan disebut dengan “osmia”.
Gangguan Pembauan.
 Anosmia : tidak bisa mendeteksi bau
 hiposmia : penurunan kemampuan dalam mendeteksi bau
 disosmia : distorsi identifikasi bau
 Parosmia : perubahan persepsi pembauan meskipun terdapat sumber bau, biasanya bau tidak enak.
 Phantosmia : persepsi bau tanpa adanya sumber bau
 Agnosia : tidak bisa menyebutkan atau membedakan bau, walaupun penderita dapat mendeteksi bau.

Gangguan pembauan dapat bersifat total (seluruh bau), parsial (hanya sejumlah bau), atau spesifik (hanya satu atau sejumlah kecil bau).

(lebih…)

Read Full Post »

ABSTRAK

Faringitis adalah kasus yang umum dijumpai dan sering menjadi keluhan yang membawa pasien untuk berobat ke dokter. Gejala yang sering diasosiasikan dengan faringitis antara lain malaise, demam, nyeri tenggorok, nyeri kepala, mual dan muntah. Gejala ini dapat terasa sangat berat tergantung dari daya tahan tubuh panderita juga bergantung kepada etiologi penyebab faringitis1.

 Etiologi faringitis mencakup bakteri, virus, jamur, parasit yang memberikan gejala dan tanda yang hampir sama sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang lain yang terkadang membutuhkan waktu yang relative lama, sehingga penatalaksanaan umumnya diberikan medikamentosa berdasarkan pengalaman empiris terlebih dahulu sebelum tegaknya diagnosis.

                  Faringitis Tuberkulosis (TB) adalah infeksi mukosa faring oleh Mycobacterium tuberculosis.1 Penyakit infeksi oleh bakteri TB yang melibatkan daerah faring termasuk jarang. Di RS Kariadi selama periode 2003 s/d 2004 ditemukan 3 pasien dirawat akibat infeksi TB yang mengenai daerah faring.

Meningitis tuberkulosis adalah radang selaput otak akibat komplikasi tuberkulosis primer. Secara histologik meningitis tuberkulosis merupakan meningo-ensefalitis (tuberkulosis) karena menyerang ke selaput otak dan SSP. (lebih…)

Read Full Post »

I.             PENDAHULUAN

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan penyakit inlamasi telinga tengah yang sering diumpai dalam praktek sehari-hari. Penyakit ini ditandai oleh otore (keluar cairan telinga) yang menetap atau berulang/kronik dari perforasi membran/gendang telinga. Sebagai akibat dari perforasi membran timpani, bakteri dapat masuk ke telinga tengah melalui liang telinga luar. Infeksi pada mukosa telinga tengah inilah yang kemudian menyebabkan otore telinga.

          OMSK yang sukar disembuhkan dapat menyebabkan komplikasi yang luas. Umumnya penyebaran bakteri ini merusak struktur disekitar telinga atau telinga tengah itu sendiri. Komplikasi ini bisa hanya otore yang menetap, mastoiditis, labirintitis, paralisis saraf fasialis sampai komplikasi serius seperti abses intrakranial atau trombosis. Walau dalam prektek kejadian komplikasi ini rendah, namun harus ada dalam pikiran kita ketika menjumpai pasien dengan OMSK aktif. Pengobatan harus segera diberikan secepat dan seefektif mungkin untuk menghindari komplikasi.

          Permasalahan yang timbul pada infeksi telinga (OMSK) adalah otore yang timbul berulang bahkan menetap walaupun telah diobati  dengan seksama, sehingga terkadang menimbulkan rasa frustasi tidak hanya sang pasien namun juga dokter yang mengelola. Pada beberapa kasus penanganan operasi mastoid juga tidak mengahasilkan hal yang memuaskan karena sering kali pasien masih kembali dengan keluhan otore yang sama.

          Saat ini para ilmuwan menemukan bahwa pada banyak kasus infeksi yang persisten termasuk pada infeksi telinga tengah kemungkinan disebabkan oleh bakteri yang bersembunyi dalam fase dormant (tak aktif) didalam suatu lapisan yang sangat tipis, sehingga dapat terlindung dari kerja antibiotika. Pada kondisi seperti ini, cairan yang masih ada di balik membran timpani bagaikan sebuah “pisau kecil” yang sering disitilahkan sebagai “biofilm” yang merupakan sarang/koloni bakteri yang siap menginfeksi kembali pada kondisi lingkungan hidup yang tepat. Dengan kata lain pada infeksi telinga yang berulang sesungguhnya bukanlah suatu infeksi berulang dari serangan bakteri baru namun sesungguhnya merupakan serangan dari bakteri biofim itu sendiri.

  (lebih…)

Read Full Post »