Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2009

Studi yang dilakukan oleh National Cancer Institute AS menunjukkan bahwa suplemen jahe yang diberikan selama 3 98e1d9afedf39be6hari berturut-turut sebelum kemoterapi dalam kombinasi dengan antiemetik konvensional, secara bermakna mengurangi mual akibat kemoterapi pada pasien kanker.

Dr Julie Ryan dkk, dari University of Rochester Medical Center New York menyatakan bahwa meskipun antiemetik telah digunakan secara luas tetapi mual akibat kemoterapi tetap > 70% pada pasien-pasien kanker yang mendapat kemoterapi. Disatu sisi, sudah sejak bertahun-tahun jahe telah digunakan untung merngurangi gejala gastrointestinal seperti mual.

Dalam studi ini diteliti sebanyak 644 pasien kanker yang menderita mual setelah pemberian siklus kemoterapi dan dijadwalkn untuk mendapat minimal 3 siklus kemoterapi tambahan. Jenis kanker yang paling sering adalah kanker payudara, kanker saluran cerna dan kenker paru-paru.

Pasien secara random mendapat plasebo dan kapsul jahe (0,5 gr; 1 gr;  1,5 rg) selama 6 hari, dimulai 3 hari sebelum hari pertama kemoterapi. Semua pasien mendapat terapi antiemetik standar pada hari pertama kemoterapi.

Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan tingkat rasa mual pada keempat kelompok tersebut pada hari pertama kemoterapi. Dari hasil penelitian, sebagian besar pasien melaporkan rasa mual paling berat pada hari pertama kemoterapi. Seluruh dosis jahe secara bermakna mengurangi gejala mual dibanding plasebo (p=0,003). Pengurangan gejala mual terbanyak terjadi dengan dosis jahe 0,5 gr dan 1,0 gr aitu penurunan mual sebesar 40%.

Para peneliti menyimpulkan bahwa studi ini menunjukkan bahwa suplementasi jahe efektif terhadap gejala mual akibat kemoterapi dan pengurangan rasa mual dapat memperbaiki kualitas hidup sebagian besar pasien selama kemoterapi.

Dikutip dari: American Society of Clinical Oncology Annual Meeting 2009 Orlando, Florida AS dan Majalah Medical Update

Iklan

Read Full Post »

588a20edcbf43fb6Suatu studi meta-analisis menunjukan bahwa jika pengobatan medikamentosa tidak efektif pada kasus rinosinusitis kronik maka operasi bedah sinus endoskopik secara bermakna dapat mengurangi semua gejala mayor rinosinusitis kronik seperti obstruksi nasal/hidung, nyeri fasial (wajah) dengan atau tanpa nyeri kepala, postnasal drip (lendir yang terasa mengalir ke tenggorokan), dan hiposmia (gangguan penciuman).

Dalam studi ini dilakukan penelitian meta-analisis pada 21 studi relevan yang melibatkan total 2070 pasien dengan rinosinusitis kronik, yang dipantau selama rata-rata 13,9 bulan setelah operasi.

Dr. Alexander C Chester dkk, dari Georgetown University Medical Center, Washington, D.C., menyatakan bahwa studi ini merupakan meta-analisis pertama yang memfokuskan pada hilangnya gejala setelah dilakukan bedah sinus endoskopik, sehingga menghasilkan bukti yang kuat untuk timbulnya perbaikan secara umum.

Sebelumnya, tidak jelas gejala mana yang paling banyak mengalami perbaikan dan ada kekhawatiran mengenai tidak adanya perbaikan pada gangguan penciuman.

Studi Meta-analisis ini menunjukkan bahwa gejala membaik secara bermakna stelah dilakukan bedah sinus endoskopik. Nilai ES (effect size) rerata secara keseluruhan adalah 1,19 dan efek ini dianggap kua karena ES>0,8 dianggap besar. ES lebih menonjol untuk obstruksi nasal (1,73), diikuti oleh nyeri fasial (1,13), postnasal drip (1,19) sakit kepala (0,98) dan hiposmia (0,97). Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan, obstruksi nasal, nyeri fasial, sakit kepala, penciuman dan postnasal drip

Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan pembedahan, obstruksi nasal, nyeri fasial/ sakit kepala,  gangguan penciuman dan postnasal drip membaik sebanyak  59%, 61%, 49% dan 47% pasca pembedahan.

Karena pembedahan endoskopik modern bersifat invasif minimal, maka penggunaan endoskop dan pengangkatan sedikit jaringan pada area yangsangat spesifik sangat bermanfaat dalam membuka sinus serta menghasilkan aliran udara yang lebih baik.

 

Dikutip dari Otolaryngology, Head and Neck Surgery 2009;140:633-639 dan majalah Medical Update Juni 2009.

Read Full Post »