Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Telinga’ Category

PENDAHULUAN

Bising didifiniskan sebagai bunyi yang tidak diinginkan (subyektif) dan terdiri dari kompleks getaran berbagai frekuensi dan amplitudo baik secara periodik maupun non-periodik (obyektif). Umumnya gangguan pendengaran akibat bising ini terjadi pada populasi industri dengan 4 faktor utama yang mengakibatkan bahaya bagi pendengaran antara lain:

  1. Intensitas/keras lemahnya bunyi/bising
  2. frekuensi/tinggi rendahnya bunyi/bising
  3. lama paparan bising perhari kerja
  4. kumulatif paparan bising (lama masa kerja)

REKOMENDASI INTENSITAS PAPARAN BISING (di kutip dari Dept. Tenaga Kerja 1994-1995)

Berdasarkan rekomendasi departemen tenaga kerja RI, intensitas bising (dB) dan waktu paparan perhari dalam jam sebagai berikut :

Intensitas bising (dB)                                       Waktu paparan (jam/hari)

85                                                                                              8

88                                                                                              4

91                                                                                              2

94                                                                                              1

97                                                                                            1/2  (30 menit)

100                                                                                          1/4 (15 menit)

103                                                                                          1/8  (7,5 menit)

106                                                                                          1/16 (3 menit)

Tentunya sumber polusi bising didapat dari berbagai sumber seperti : gemuruh mesin pabrik, turbin, alat pemotong dan lain sebagainya. Sebagai perbandingan frekuensi dan intensitas bunyi yang sering kita dengar dapat dilihat dalam gambar berikut ini:

Iklan

Read Full Post »

PENDAHULUAN

Abses serebri otogenik (ASO) adalah abses (terbentuknya nanah) otak akibat komplikasi intrakranial (didalam tulang tengkorak) oleh penyakit otitis media kronik terutama yang disertai kolesteatom. Komplikasi ini merupakan komplikasi intrakranial tersering kedua setelah meningitis.1,2  Komplikasi ini serius karena dapat mengancam jiwa atau menjadi kondisi yang mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan maksimal. Hipocrates tahun 460 SM telah mencatat ada hubungan antara otore purulen (nanah di telinga) disertai demam, penurunan kesadaran kemudian meninggal.3 Dari patogenesisnya ASO merupakan proses supurasi fokal yang terjadi pada parenkim otak (serebritis), dapat berlokasi di serebrum maupun serebelum.3

Pada era sebelum antibiotika, angka kejadian ASO sekitar 2.3% dari seluruh komplikasi otits media kronik, namun pada era antibiotik dan perkembangan tehnik operasi yang baik, kejadian komplikasi ASO ini berkurang manjadi 0.15 – 0.04%.4

Mengingat angka kematiannya yang tinggi sekitar 30-40%5, eradikasi infeksi ini, baik absesnya maupun sumber infeksinya yaitu telinga menimbulkan tantangan tersendiri yang diawali oleh Sir Wiliam Macewen dengan pendekatan pengambilan abses otogenik melalui jalur mastoid. Namun dengan berkembangnya masing-masing bidang keahlian baik THT dan bedah saraf, pengelolaan ASO meliputi dua prosedur yaitu eradikasi fokus primer infeksinya di mastoid dan komplikasi ASO itu sendiri.5,6

Deteksi dini dan ketepatan penanganan pada kasus ASO merupakan hal yang paling mendasar yang perlu dilakukan, dengan semakin panjang/lama waktu penegakan diagnosis, maka prognosis pasien menjadi lebih buruk.1,5

(lebih…)

Read Full Post »

Gendang telinga / membran timpani /tympanic membrane / eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis), trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping, suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita, menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman, trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor dsb. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan  yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun, nyeri telinga (otalgia), gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. (lebih…)

Read Full Post »

I.             PENDAHULUAN

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan penyakit inlamasi telinga tengah yang sering diumpai dalam praktek sehari-hari. Penyakit ini ditandai oleh otore (keluar cairan telinga) yang menetap atau berulang/kronik dari perforasi membran/gendang telinga. Sebagai akibat dari perforasi membran timpani, bakteri dapat masuk ke telinga tengah melalui liang telinga luar. Infeksi pada mukosa telinga tengah inilah yang kemudian menyebabkan otore telinga.

          OMSK yang sukar disembuhkan dapat menyebabkan komplikasi yang luas. Umumnya penyebaran bakteri ini merusak struktur disekitar telinga atau telinga tengah itu sendiri. Komplikasi ini bisa hanya otore yang menetap, mastoiditis, labirintitis, paralisis saraf fasialis sampai komplikasi serius seperti abses intrakranial atau trombosis. Walau dalam prektek kejadian komplikasi ini rendah, namun harus ada dalam pikiran kita ketika menjumpai pasien dengan OMSK aktif. Pengobatan harus segera diberikan secepat dan seefektif mungkin untuk menghindari komplikasi.

          Permasalahan yang timbul pada infeksi telinga (OMSK) adalah otore yang timbul berulang bahkan menetap walaupun telah diobati  dengan seksama, sehingga terkadang menimbulkan rasa frustasi tidak hanya sang pasien namun juga dokter yang mengelola. Pada beberapa kasus penanganan operasi mastoid juga tidak mengahasilkan hal yang memuaskan karena sering kali pasien masih kembali dengan keluhan otore yang sama.

          Saat ini para ilmuwan menemukan bahwa pada banyak kasus infeksi yang persisten termasuk pada infeksi telinga tengah kemungkinan disebabkan oleh bakteri yang bersembunyi dalam fase dormant (tak aktif) didalam suatu lapisan yang sangat tipis, sehingga dapat terlindung dari kerja antibiotika. Pada kondisi seperti ini, cairan yang masih ada di balik membran timpani bagaikan sebuah “pisau kecil” yang sering disitilahkan sebagai “biofilm” yang merupakan sarang/koloni bakteri yang siap menginfeksi kembali pada kondisi lingkungan hidup yang tepat. Dengan kata lain pada infeksi telinga yang berulang sesungguhnya bukanlah suatu infeksi berulang dari serangan bakteri baru namun sesungguhnya merupakan serangan dari bakteri biofim itu sendiri.

  (lebih…)

Read Full Post »