Feeds:
Pos
Komentar

317d36c0467365e8Penelitian mengenai mekanisme alergi telah difokuskan untuk memahami kelainan imunorespon, namun beberapa perkembakan terakhir ini baru disadari bahwa peran epitel sebagai sistem pertahanan pertama terhadap alergan mulai disadari. Meskipun demikian, sampai sejauh ini belum diketahui mengapa dan bagaimana alergan ditranspor melalui epitel. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dua kelompok tim peneliti dari Finlandia melaporkan bahwa salah satu sebab berkembangnya alergi kemungkinan disebabkan oleh adanya malfungsi (gangguan fungsi) epitel saluran pernafasan yang memungkinkan alergan erikat, masuk dan kemudian menjelajah epitel.

Kelompok peneliti dari Helsinki University dan Helsinki University Central Hospital dalam kerjasamanya dengan kelopok peneliti Findlandia, melakuakan studi untuk mengklarifikasi apa ygn terjadi pada epitel, segera setelah terpapar dengan alergen dan sebelum timbulnya reaksi alergi.

Tim peneliti ini menggunakan paparan alergen polen (serbuk tepung sari( birch (Bet v1) dan menunjukkan bahwa alergen ini terikat, masuk dan menjelajah melalui epitel konjungtiva dan nasal pasien dalan kurun waktu 1 menit setelah paparan, tetapi hal ini tidak terjadi pada subyek yang sehat. Lanjut Baca »

Studi yang dilakukan oleh National Cancer Institute AS menunjukkan bahwa suplemen jahe yang diberikan selama 3 98e1d9afedf39be6hari berturut-turut sebelum kemoterapi dalam kombinasi dengan antiemetik konvensional, secara bermakna mengurangi mual akibat kemoterapi pada pasien kanker.

Dr Julie Ryan dkk, dari University of Rochester Medical Center New York menyatakan bahwa meskipun antiemetik telah digunakan secara luas tetapi mual akibat kemoterapi tetap > 70% pada pasien-pasien kanker yang mendapat kemoterapi. Disatu sisi, sudah sejak bertahun-tahun jahe telah digunakan untung merngurangi gejala gastrointestinal seperti mual.

Dalam studi ini diteliti sebanyak 644 pasien kanker yang menderita mual setelah pemberian siklus kemoterapi dan dijadwalkn untuk mendapat minimal 3 siklus kemoterapi tambahan. Jenis kanker yang paling sering adalah kanker payudara, kanker saluran cerna dan kenker paru-paru.

Pasien secara random mendapat plasebo dan kapsul jahe (0,5 gr; 1 gr;  1,5 rg) selama 6 hari, dimulai 3 hari sebelum hari pertama kemoterapi. Semua pasien mendapat terapi antiemetik standar pada hari pertama kemoterapi.

Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan tingkat rasa mual pada keempat kelompok tersebut pada hari pertama kemoterapi. Dari hasil penelitian, sebagian besar pasien melaporkan rasa mual paling berat pada hari pertama kemoterapi. Seluruh dosis jahe secara bermakna mengurangi gejala mual dibanding plasebo (p=0,003). Pengurangan gejala mual terbanyak terjadi dengan dosis jahe 0,5 gr dan 1,0 gr aitu penurunan mual sebesar 40%.

Para peneliti menyimpulkan bahwa studi ini menunjukkan bahwa suplementasi jahe efektif terhadap gejala mual akibat kemoterapi dan pengurangan rasa mual dapat memperbaiki kualitas hidup sebagian besar pasien selama kemoterapi.

Dikutip dari: American Society of Clinical Oncology Annual Meeting 2009 Orlando, Florida AS dan Majalah Medical Update

588a20edcbf43fb6Suatu studi meta-analisis menunjukan bahwa jika pengobatan medikamentosa tidak efektif pada kasus rinosinusitis kronik maka operasi bedah sinus endoskopik secara bermakna dapat mengurangi semua gejala mayor rinosinusitis kronik seperti obstruksi nasal/hidung, nyeri fasial (wajah) dengan atau tanpa nyeri kepala, postnasal drip (lendir yang terasa mengalir ke tenggorokan), dan hiposmia (gangguan penciuman).

Dalam studi ini dilakukan penelitian meta-analisis pada 21 studi relevan yang melibatkan total 2070 pasien dengan rinosinusitis kronik, yang dipantau selama rata-rata 13,9 bulan setelah operasi.

Dr. Alexander C Chester dkk, dari Georgetown University Medical Center, Washington, D.C., menyatakan bahwa studi ini merupakan meta-analisis pertama yang memfokuskan pada hilangnya gejala setelah dilakukan bedah sinus endoskopik, sehingga menghasilkan bukti yang kuat untuk timbulnya perbaikan secara umum.

Sebelumnya, tidak jelas gejala mana yang paling banyak mengalami perbaikan dan ada kekhawatiran mengenai tidak adanya perbaikan pada gangguan penciuman.

Studi Meta-analisis ini menunjukkan bahwa gejala membaik secara bermakna stelah dilakukan bedah sinus endoskopik. Nilai ES (effect size) rerata secara keseluruhan adalah 1,19 dan efek ini dianggap kua karena ES>0,8 dianggap besar. ES lebih menonjol untuk obstruksi nasal (1,73), diikuti oleh nyeri fasial (1,13), postnasal drip (1,19) sakit kepala (0,98) dan hiposmia (0,97). Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan, obstruksi nasal, nyeri fasial, sakit kepala, penciuman dan postnasal drip

Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan pembedahan, obstruksi nasal, nyeri fasial/ sakit kepala,  gangguan penciuman dan postnasal drip membaik sebanyak  59%, 61%, 49% dan 47% pasca pembedahan.

Karena pembedahan endoskopik modern bersifat invasif minimal, maka penggunaan endoskop dan pengangkatan sedikit jaringan pada area yangsangat spesifik sangat bermanfaat dalam membuka sinus serta menghasilkan aliran udara yang lebih baik.

 

Dikutip dari Otolaryngology, Head and Neck Surgery 2009;140:633-639 dan majalah Medical Update Juni 2009.

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan yang berasal dari epitel atau mukosa dan kripta yang  melapisi permukaan nasofaring.7,16  Di Indonesia maupun di Asia Tenggara, KNF dilaporkan sebagai tumor paling sering ditemukan diantara keganasan di daerah kepala dan leher.16,17 Di Indonesia, menempati urutan ke-4 diantara keganasan yang terdapat di seluruh tubuh. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair  Surabaya (1973 – 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127 kasus KNF dari tahun 2000 – 2002.18  

Berdasarkan klasifikasi histopatologi, KNF dibagi menjadi WHO1, WHO2 dan WHO3.  WHO1 adalah karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, WHO2 gambaran histologinya karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih kearah diferensiasi baik. WHO3 adalah karsinoma yang sangat heterogen, sel ganas membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas7,19. Jenis KNF yang banyak dijumpai adalah WHO2 dan WHO3. Di bagian THT Semarang mendapatkan 112 WHO2 dan WHO3  dari 127 kasus KNF.18

            KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang dijumpai penderita di bawah usia 20 tahun dan

usia terbanyak antara 45 – 54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2 – 3 : 1.16,18,20

            Sampai sekarang etiologi KNF belumlah jelas benar, akan tetapi virus Epstein-Barr (EBV) dinyatakan sebagai etiologi utama penyebab KNF7,16  dan faktor lain seperti genetik serta lingkungan yang mengandung bahan karsinogenik dinyatakan sebagai faktor pendukung. EBV hampir dapat dipastikan sebagai penyebab KNF, namun kenyataannya tidak semua individu yang terinfeksi EBV akan berkembang menjadi KNF. Menurut hasil penelitian menyatakan faktor pendukung seperti lingkungan, genetik sangat menentukan timbulnya KNF.7,21 Lanjut Baca »

SINUSITIS

PENDAHULUAN513d4a5ed79b4f90

     Seperti diketahui, meskipun data-data yang akurat belum ada di Indonesia tetapi sinusitis merupakan masalah kesehatan yang banyak dijumpai pada praktek sehari-hari. Di USA kurang lebih 32 juta orang setiap tahun menderita sinusitis dan hampir sebesar USD150 juta  (1989) dipakai untuk pengobatan sinusitis.

     Menurut American Academy of Otolaryngology – Head & Neck Surgery 1996 istilah sinusitis diganti dengan rinosinusitis karena dianggap lebih akurat dengan alasan :

1). Secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa hidung

2). Sinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis

3). Gejala-gejala obstruksi nasi, rinore dan hiposmia dijumpai pada rinitis ataupun sinusitis.

 

 Rinosinusitis didefinisikan sebagai peradangan lapisan mukoperiosteum hidung maupun sinus. Konsep yang telah diketahui bersama yang memegang peranan penting  terjadinya rinosinusitis adalah komplek osteomeatal. Dimana inflamasi pada mukosa osteomeatal, terganggunya aerasi-drainase sinus dan kegagalan fungsi transpor mukosiliar merupakan penyebab rinosinusitis. Penyakit ini merupakan penyakit umum yang dapat mengenai anak-anak ataupun dewasa, pada pria dan wanita tidak ada perbedaan yang bermakna. Lanjut Baca »

PENDAHULUAN

Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut “the process of taking food into the body through the mouth”.

Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan.

Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.

Lanjut Baca »

OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA)

OSA merupakan suatu kondisi terhentinya nafas untuk beberapa saat selama tidur. OSA dapat terjadi saat saluran nafas bagian atas tertutup sementara upaya bernafas tetap berlanjut. Pada umumnya saat kita tidur, semua dalam kondisi relaksasi/istirahat termasuk disini otot-otot saluran pernafasan mulai dari lidah, langit-langit terutama langit-langit lunak (soft palatum) sehingga saluran nafas bagian atas relatif menyempit. Menyempitnya saluran nafas yang ekstrim karena berbagai sebab akan mengakibatkan gangguan aliran udara pernafasaan saat tidur mulai dari derajat yang paling ringan sampai berat. Umumnya penyempitan saluran nafas atas yang ringan ditandai dengan dengkuran (ngorok) saat tidur sampai penyempitan yang berat yaitu terhentinya nafas saat tidur (OSA). Setelah beberapa saat tidur tanpa bernafas (umumnya 10 detik s/d 2 menit), otak merespon kondisi kekurangan oksigen dalam tubuh dengan refleks terjaga/tersedak yang terkadang penderita OSA sendiri tak menyadarinya. Gangguan ini dapat terjadi sedemikian beratnya (berkali-kali terjaga dalam satu malam) sehingga mengakibatkan kualitas tidur yang buruk.

Lanjut Baca »