Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘hidung buntu’

588a20edcbf43fb6Suatu studi meta-analisis menunjukan bahwa jika pengobatan medikamentosa tidak efektif pada kasus rinosinusitis kronik maka operasi bedah sinus endoskopik secara bermakna dapat mengurangi semua gejala mayor rinosinusitis kronik seperti obstruksi nasal/hidung, nyeri fasial (wajah) dengan atau tanpa nyeri kepala, postnasal drip (lendir yang terasa mengalir ke tenggorokan), dan hiposmia (gangguan penciuman).

Dalam studi ini dilakukan penelitian meta-analisis pada 21 studi relevan yang melibatkan total 2070 pasien dengan rinosinusitis kronik, yang dipantau selama rata-rata 13,9 bulan setelah operasi.

Dr. Alexander C Chester dkk, dari Georgetown University Medical Center, Washington, D.C., menyatakan bahwa studi ini merupakan meta-analisis pertama yang memfokuskan pada hilangnya gejala setelah dilakukan bedah sinus endoskopik, sehingga menghasilkan bukti yang kuat untuk timbulnya perbaikan secara umum.

Sebelumnya, tidak jelas gejala mana yang paling banyak mengalami perbaikan dan ada kekhawatiran mengenai tidak adanya perbaikan pada gangguan penciuman.

Studi Meta-analisis ini menunjukkan bahwa gejala membaik secara bermakna stelah dilakukan bedah sinus endoskopik. Nilai ES (effect size) rerata secara keseluruhan adalah 1,19 dan efek ini dianggap kua karena ES>0,8 dianggap besar. ES lebih menonjol untuk obstruksi nasal (1,73), diikuti oleh nyeri fasial (1,13), postnasal drip (1,19) sakit kepala (0,98) dan hiposmia (0,97). Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan, obstruksi nasal, nyeri fasial, sakit kepala, penciuman dan postnasal drip

Pada analisis sebelum dan sesudah tindakan pembedahan, obstruksi nasal, nyeri fasial/ sakit kepala,  gangguan penciuman dan postnasal drip membaik sebanyak  59%, 61%, 49% dan 47% pasca pembedahan.

Karena pembedahan endoskopik modern bersifat invasif minimal, maka penggunaan endoskop dan pengangkatan sedikit jaringan pada area yangsangat spesifik sangat bermanfaat dalam membuka sinus serta menghasilkan aliran udara yang lebih baik.

 

Dikutip dari Otolaryngology, Head and Neck Surgery 2009;140:633-639 dan majalah Medical Update Juni 2009.

Read Full Post »

I.   PENDAHULUAN

          Obstruksi hidung menetap/kronik baik satu atau kedua sisi dapat disebabkan oleh berbagai macam etiologi yang mendasarinya antara lain adanya massa tumor di dalam rongga hidung. Massa tumor dapat bersifat jinak maupun ganas. Salah satu massa tumor jinak yang sering di temui di bidang THT-KL adalah adanya polip nasi di rongga hidung yang ditandai dengan massa putih, translusent atau pucat mengkilat dengan permukaan licin tak berbenjol-benjol dengan konsistensi kenyal.

          Faktor penyebab terjadinya polip nasi sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti.1 Beberapa faktor predisposisi yang dihubungkan dengan polip nasi antara lain  asma, sinusitis kronik, intoleransi obat (aspirin), fibrosis kistik, alergic fungal sinusitis.2

Sering kali penanganan polip nasi hanya didasarkan pada tindakan operasi pengambilan polip saja dan sedikit mengabaikan faktor prediosposisi yang mendasarinya, sehingga kemungkinan kekambuhannya dapat terjadi walaupun telah dilakukannya pengangkatan polip secara bersih.

Sebagai seorang ahli THT, tentu saja penguasaan terhadap masalah diatas menjadi penting karena salah satu faktor predisposisinya yaitu fibrosis kistik juga menyangkut bidang keahlian lain, sehingga penanganan secara menyeluruh dapat dilakukan.

Tulisan kali ini membahas manifestasi fibrosis kistik pada daerah sinonasal, yang diharapkan makin menambah luas wawasan kita dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan fibrosis kistik di daerah sinonasal.  (lebih…)

Read Full Post »